Cari Blog Ini
Kamis, 13 Januari 2011
"A Lesson from a Donkey"
Alkisah, suatu hari seorang petani pergi ke ladang untuk mengolah tanahnya. Ia pun mengendarai keledainya karena jarak antara rumah dan ladangnya cukup jauh. Dari pagi sampai sore, petani itu pun bekerja dengan giatnya untuk mengolah tanah sebelum ditanami.
Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, ia pun memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, sang petani berhenti di sebuah padang rumput. Karena tubuhnya sangat lelah, ia pun berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sebentar. Angin sore pun bertiup sepoi-sepoi sehingga membuatnya tertidur. Adapun keledainya, ia biarkan begitu saja di padang rumput untuk makan.
Menit demi menit hingga satu jam lamanya petani itu tertidur. Saat terbangun, ia sangat kaget karena tidak menemukan keledainya di sampingnya. Ia juga melihat ke sekitar, tetapi juga tetap tidak tampak.
Perasaannya semakin kalut dan khawatir, dalam hati ia berkata,
“Aduh, di mana nih keledaiku? Harus aku cari ke mana?”
“Apakah ada yang mencurinya? Tetapi mana mungkin, keledai itu kan sudah tua dan tak laku kalau dijual,” pikirnya.
Di tengah kekhawatirannya, ia pun berkeliling ke sekitar padang rumput itu untuk mencari keledainya. Setelah beberapa lama mencari, ia samar-samar mendengar suara keledainya. Ia pun mendekati asal suara tersebut dan menemukan jika keledainya telah terjatuh ke sebuah lubang yang cukup dalam. Melihat kondisi yang demikian, sang petani bertambah bingung. Ia pergi ke sana kemari sambil mencari bantuan dan memikirkan cara untuk menolong keledainya.
Setelah sekian lama berjalan, ia tak juga menemukan seseorang yang dapat dimintai tolong. Lalu, ia bergegas kembali ke lubang tempat keledainya terjatuh. Di tengah kebingungannya, tebersit suatu solusi.
“Keledaiku terjatuh, tak mungkin bagiku untuk mengeluarkannya karena lubang begitu dalam. Lagi pula, ia juga sudah tua dan tak laku lagi jika dijual. Lebih baik aku kubur sekalian keledai itu, agar lubang itu tak memakan korban lagi seperti keledaiku,” pikir sang petani.
Ia pun mengambil sekop dan mulai menggali tanah untuk menimbun keledai.
Saat tanah mulai menimpa tubuh keledai, ia mulai gelisah dan meronta-ronta, tetapi hal itu tidak dapat menolongnya. Akhirnya, ia pun terdiam. Setelah beberapa sekop tanah, sang petani melihat ke dalam lubang tersebut untuk melihat seberapa banyak tanah yang sudah masuk. Sang petani sangat terkejut dan tercengang saat melihat ke dalam lubang karena melihat tindakan mengagumkan yang dilakukan keledai.
Keledai tersebut ternyata tidak tertimbun tanah. Setiap sekop tanah yang jatuh menimpa tubuh keledai, ia mengguncang-guncangkan tubuhnya sehingga tanah tersebut jatuh ke bawahnya dan mulai menaikinya sehingga posisi keledai semakin naik ke atas. Saat petani melihat yang dilakukan keledai, ia semakin semangat untuk menyekop tanah ke dalam lubang tersebut. Setelah beberapa lama, akhirnya keledai dapat naik ke atas lubang dan dapat selamat dari kematian.
Dari kisah ini, kita dapat belajar dari keledai tersebut. Sang keledai tidak berputus asa dan menyerah begitu saja dengan masalah (kematian) yang ada di hadapannya. Tetapi, ia mengguncangkan tanah itu agar dapat menjadi pijakan naik ke atas lubang sehingga selamat dari kematian.
Dalam kehidupan ini, masalah selalu saja menimpa diri kita. Jangan sampai masalah tersebut mengubur kita hidup-hidup, tetapi kita harus mengguncangkannya dan menjadikannya pijakan untuk naik dan selamat dari masalah. Sehingga, pribadi diri kita menjadi pribadi yang hebat dan tidak menyerah dengan masalah yang menghantam diri kita. Masalah dan cobaan adalah pijakan untuk menjadi manusia yang hebat.
"Guncangkanlah segala masalah dan hal negatif yang menimpa serta teruslah melangkah ke depan."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar