Cari Blog Ini

Kamis, 07 April 2011

Aku Ingin Seperti "Pukat"



Judul Novel        : Pukat
Penulis                 : Tere Liye
Penerbit              : Republika
Halaman              : 347 hlm
               
                It’s fabulous..... itulah ungkapan yang saya kira cukup tepat menggambarkan novel ini. Sang penulis begitu brilian mengantarkan pembacanya dalam menyelami dunia anak. Dunia yang selama ini jarang tersentuh oleh novelis-novelis lain mampu disajikannya begitu apik dan menggemaskan. Pembaca dibawa kembali ke masa kecil mereka melalui intrik-intrik masa kanak-kanak, permusuhan dengan teman sebangku hingga cinta monyet yang bersemi. Sungguh menggelikan saat kita mengingat itu semua....xixixi
                Tak hanya dunia bermain, terselip pula pendidikan moral. Lewat tokoh pukat, kita diajak menyelami dunianya yang begitu mengasyikkan. Sebagai anak yang digambarkan memiliki kepandaian diatas rata-rata anak kampungnya, ia selalu melakukan hal-hal yang sering tak tepikirkan oleh teman-temannya, bahkan oleh orang tua sekali pun. Cobalah tengok, bagaimana ia dengan cerdasnya memecahkan kasus perampokan di atas kereta api saat melintasi terowongan yang sangat gelap. Saat para perampok mendekati ayahnya untuk mengambil barang berharga, ia dengan cerdik menaburkan bubuk kopi–yang sedianya untuk oleh-oleh–ke sepatu dan celana para perampok itu. Perampok mengira tidak ada seorang pun yang bisa mengenali mereka, namun berkat kopi yang menempel di sepatu dan celana mereka, polisi berhasil meringkus dan membekuk komplotan perampok tersebut. Benar-benar menggambarkan sosok anak cerdas dan berani untuk ukuran anak seusianya.
                Tak lengkap pula bila sebuah novel tidak diselipi bumbu percintaan, bagaikan masakan tanpa garam...hehehe. Penulis pun menyisipkan kisah cinta di novel ini, meski hanya sebatas cinta monyet, namun sangat menarik dan lucu. Lihatlah bagaimana raju yang terpana pada pandangan pertama terhadapa saleha–anak bidan yang baru pindah ke kampung mereka. Raju yang awalnya suka bolos dan gemar memalsu surat izin, tiba-tiba menjadi anak yang paling rajin masuk kelas. Itulah kekuatan cinta yang mampu mengubah sosok raju yang pemalas menjadi murid yang rajin. Meski kisah cinta monyet ini berakhir gara-gara saleha mengalami haid pertamanya dan tampak bekas darah di roknya saat maju ke depan kelas. Raju mengaggap bahwa anak permpuan itu jorok..hahaha, yang namanya anak-anak tentu belum tau itu apa artinya haid perempuan. Begitulah cinta monyet disisipkan dalam novel ini.
                Pendidikan kejujuran juga ditanamkan, bagaimana pukat mengusulkan “kaleng kejujuran” untuk membantu wak yati–pemilik warung–yang anak bungsunya mengalami sakit paru-paru sehingga harus menjaga siang malam dan tak bisa membuka warung. Bagi anak-anak yang mau membeli jajan atau keperluan sekolah tinggal membayar sendiri dan mengambil kembaliannya di dalam kaleng. Di pelosok kampung nun jauh ternyata telah ada ide semacam ini–entah siapa yang mengadopsi telebih dahulu–di kota pun kini digalakkan kantin kejujuran untuk mendidik siswa tentang kejujuran.
                Sebagai gambaran keluarga yang ideal, sosok bapak dan mamak merupakan figur yang patut dijadikan contoh dalam mendidik anak-anak. Mamak tampil dengan sosok yang cerewet dan ingin mengatur segala hal dalam keluarga serta mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang penurut. Sedang sang bapak tampak berwibawa dengan sosoknya yang kalem memberi contoh dan tindakan nyata daripada banyak berbicara. Dua kombinasi yang sesuai dan unik dalam mendidik anak di dalam keluarga.
                Satu hal yang saya ingat betul dalam novel ini, saat si pukat ditanya tentang cita-citanya. Pukat ingin menjadi seorang peneliti, karena peneliti itu tahu jawaban segala hal. Saya sontak kaget saat membaca bagian tersebut, apakah memang begitu keadaan peniliti??? Sebuah kalimat yang menggelitik diriku hingga kini. Lihatlah juga bagaimana Pukat sampai bertahun-tahun untuk memecahkan teka-teki dari uwaknya tentang harta karun di kampung mereka. Saat ia tahu jawaban nya, ia pun rela menyebarang samudera dan negara serta meninggalkan tugasnya penelitiannya yang menumpuk untuk memberi tahu jawaban meski sang pemberi pertanyaan telah tiada, meski dengan berteriak di atas pusaranya.
                Sungguh, sebuah novel yang inspiratif dan menggelitik. Bagi anak-anak dapat mencontoh Pukat si anak pintar. Bagi yang bercita-cita menjadi guru atau pendidik dapat mencontoh pak Bin yang ikhlas dan penuh ide kreatif dalam mendidik murid-muridnya di tengah segala keterbatasan dana sekolah. Bagi orang tua, bisa belajar dari bapak dan mamak bagaimana cara mendidik anak agar menjadi generasi penerus bangsa yang hebat.
                Bravooooo.... Sebuah novel yang harus anda baca ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar