Cari Blog Ini

Kamis, 14 April 2011

Ranah 3 Warna








Ranah 3 Warna
Penulis                 : A. Fuadi
Penerbit              : Gramedia
Halaman              : 471
                Masih penasaran dengan kelanjutan cerita si Alif dalam Negeri Lima Menara??? Yahh, inilah novel ke-2 dari trilogi negeri lima menara. Alif yang telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren madani dengan penuh perjuangan dan suka-duka harus kembali ke kampung halamannya. Ia pun harus berpisah dengan Shahibul Menara yang meretas jalan untuk menggapai cita-cita dan impian mereka masing-masing.
                Alif, ia masih menyimpan cita-citanya ingin menguasai teknologi seperti pak Habibi yang mampu membuat pesawat terbang dan pergi ke Amerika. Cita-cita semasa SMP untuk kuliah ke ITB masih melekat di lubuk hati Alif. Namun, sahabat karibnya-Randai-meragukannya apakah ia mampu masuk ITB. Terlebih lagi, Alif hanya lulusan pesantren dengan bekal pelajaran eksak seadanya. Bahkan, orang-orang di kampungnya pun meragukannya. Bak dilecut semangat “man jadda wajada”, Alif ingin membuktikan bahwa presepsi yang selama ini dilekatkan pada anak pesantren itu salah. Tak hanya UMPTN yang harus ditaklukkannya, ia juga harus ikut ujian persamaan sebagai syarat ikut UMPTN, karena pondok madani tidak mengeluarkan ijazah resmi.
                Siang-malam Alif belajar dengan giat, semua buku-buku yang harus dipelajari selama 3 tahun ia lahap hanya 2 bulan saja. Tapi saat semangatnya kendor, ia pun terlecut dengan semangat tim Dinamit yang mampu mengalahkan Jerman saat piala Eropa. Akhirnya, ia pun berhasil mendapat ijazah persamaan, sekaligus juga dapat lulus UMPTN dan diterima di Unpad jurusan Hubungan Internasional, bukan di ITB seperti cita-citanya semula.
                Alif pun bisa tersenyum sesaat, namun badai menerpanya bertubi-tubi dan hampir membuatnya menyerah. Nyatanya, mantra “Man Jadda Wajada” saja tidak cukup bagi Alif dalam mengarungi hidup sebagai mahasiswa di Bandung. Berbagai cobaan dialaminya, mulai dari ayahnya yang meninggal hingga ia harus berjualan sebagai sales untuk menyambung hidup dan kuliah hingga membuatnya sakit tipes. Ia pun teringat salah satu mantra yang diajarkan di pondok madani “Man Shabara Zafira” (Barang siapa yang bersabar maka untunglah ia). Ternyata, usaha yang keras saja tidak cukup, harus juga diimbangi kesabaran agar memperoleh hasil yang istimewa.
                Dalam novel ini, diceritakan pula bagaimana usaha keras Alif untuk belajar menulis dengan bang Togar–seniornya di majalah kampus Kutub. Ia sampai “berdarah-darah” terkena sabetan samurai merah bang Togar, namun itu semua mengantarkannya kepada prestasi yang membanggakan. Lalu, bagaimana dengan kisah cinta? Apakah diselipkan dalam novel ini? Yaahh, cinta memang menjadi “bumbu penyedap” dalam sebuah novel. Sosok Raisa yang menawan telah menambat hati Alif, namun sayang ia harus merelakannya untuk sahabatnya Randai.
                Memang jika dilihat dari segi bahasa dan alurnya, novel ke-2 ini lebih berkarakter dan mempunyai alur yang mudah diikuti oleh pembacanya dibanding dengan novel pertama. Lagi-lagi memang sang penulis juga menerapkan mantra “Man Jadda Wajada” dalam menambal kekurangan-kekurangan di novel pertamanya. So, kita tunggu seri terakhir dari trilogi Negeri Lima Menara dan bagaimana akhir dari perjalanan Alif dan para Shahibul Menara. Let’s waiting  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar